Menghadirkan kembali tokoh bangsa — wajah, pikiran, dan suaranya.
Digital human hiper-realistis dengan pengetahuan AI yang dikurasi lokal. Di web, dan di hologram.
Lihat Gus Dur AIArsip menyimpan rekaman. Kehadiran memudar.
Seorang tokoh berpulang. Pidatonya tersimpan di arsip, fotonya di album. Namun cara beliau menjawab pertanyaan, melempar kelakar, memberi pelajaran — kehadiran itulah yang pertama kali hilang dari generasi berikutnya.
metaHumano menjaga kehadiran, bukan sekadar rekaman — agar generasi berikutnya dapat berjumpa dengan sang tokoh, bukan hanya menontonnya.
Rupa yang dibangun tangan, disetujui para penjaga amanah.
Setiap wajah dipahat di Blender dari referensi arsip — pori demi pori, ekspresi demi ekspresi — lalu ditinjau dan disetujui keluarga serta institusi sebelum ditampilkan.
Pengetahuan dikurasi para penjaganya. Tak pernah dikarang.
Basis pengetahuan disusun bersama keluarga, ulama, dan sejarawan — bukan dikeruk dari internet.
Pengambilan pengetahuan bersifat deterministik: AI hanya menarasikan sumber terverifikasi. Jika tidak ada dalam korpus kurasi, sang tokoh akan mengatakannya.
Irama bicara yang sama, menjawab pertanyaan baru.
Suara diklon dari rekaman arsip — dengan izin tertulis ahli waris — sehingga jawaban baru tetap membawa irama bicara aslinya.
Sinkronisasi bibir dibangun sendiri untuk fonem Bahasa Indonesia — karena lip-sync siap pakai hanya fasih berbahasa Inggris.
Satu tokoh. Dua panggung.
Web untuk jangkauan — embed, kiosk, ponsel. Hologram untuk kehadiran — museum, acara, instalasi permanen. Keduanya digerakkan mesin pengetahuan yang sama.
Gus Dur AI.
Kehadiran digital hiper-realistis KH Abdurrahman Wahid — wajah, pengetahuan, dan suara — dikurasi bersama para penjaga warisan beliau.
“Agar generasi berikutnya masih bisa bertanya kepada beliau.” — Semangat karya ini
Tak ada tokoh tanpa amanah.
- Tidak ada tokoh yang dibangun tanpa restu tertulis keluarga, ahli waris, atau institusi.
- Basis pengetahuan ditinjau para penjaga amanah sebelum diluncurkan — dengan hak veto berkelanjutan.
- Kepatuhan penuh UU PDP; pagar izin ditegakkan dalam kontrak API, bukan sekadar kebijakan.
- Kami menolak pekerjaan deepfake. Setiap tokoh metaHumano bersifat publik, beratribusi, dan direstui.